
“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca rangkaian huruf atau menulis kalimat. Literasi adalah kemampuan seseorang untuk memahami informasi, mengolahnya, berpikir kritis, kemudian menggunakannya secara bijak.”
“Literasi bukan hanya tentang membaca buku. Literasi adalah bagaimana kita memahami apa yang kita baca, berpikir terhadap informasi yang kita terima, dan mampu mengambil keputusan dengan tepat.”
Kedua kutipan di atas terasa semakin relevan di tengah derasnya arus informasi. Setiap hari, siswa berhadapan dengan berbagai macam berita, unggahan media sosial, video, dan pesan yang datang silih berganti. Tidak sedikit informasi yang sengaja dibuat untuk memengaruhi cara seseorang berpikir.

Di sinilah literasi menemukan maknanya.
Membaca membuat seseorang mengetahui. Sedangkan, literasi membuat seseorang mampu memahami. Budaya literasi perlu dibangun secara bersama-sama. Sekolah memiliki peran penting untuk menyediakan ruang dan kesempatan bagi siswa agar dekat dengan buku dan berbagai sumber pengetahuan. Namun, kebiasaan membaca tidak akan tumbuh hanya karena adanya program. Ia harus dimulai dari kebiasaan kecil. Seperti membaca beberapa halaman setiap hari, menuliskan kembali apa yang dipahami, bertanya ketika menemukan sesuatu yang belum diketahui, dan berdiskusi serta mencari sumber yang dapat dipercaya untuk kemudian berani menyampaikan gagasan. Dari kebiasaan-kebiasaan sederhana itulah kemampuan berpikir dapat tumbuh.
Literasi juga bukan hanya milik siswa yang gemar membaca. Ia adalah kebutuhan semua orang. Seorang guru membutuhkan literasi untuk terus belajar. Seorang siswa membutuhkannya untuk memahami pelajaran dan kehidupan. Orang tua membutuhkannya untuk mendampingi anak. Bahkan masyarakat membutuhkan literasi agar tidak mudah terseret oleh informasi yang belum tentu benar.
Buku mungkin hanya benda yang terdiri atas lembaran-lembaran kertas. Namun, di dalamnya tersimpan gagasan, pengalaman, pengetahuan, dan kemungkinan-kemungkinan baru.
Satu buku dapat membuka satu jendela.
Satu kebiasaan membaca dapat membuka jalan.
Dan satu generasi yang memiliki kemampuan literasi yang baik dapat memiliki bekal untuk menghadapi masa depan dengan lebih kritis, kreatif, dan bijaksana.
Maka, ketika kegiatan peluncuran literasi berakhir dan suasana kembali seperti biasa, sesungguhnya pekerjaan yang paling penting baru saja dimulai.

