
SMAIT Al-Multazam (28/01/2026). Hujan yang turun sejak pagi mengubah suasana sekolah menjadi berbeda dari biasanya. Langit yang mendung membuat halaman sekolah, lapangan, dan selasar sekolah tampak lebih sepi. Kelas pun seolah tak berpenghuni. Sementara suara hujan yang jatuh di atap kelas terdengar jelas hingga ke dalam ruangan. Aktivitas santri tetap berjalan, tetapi dengan ritme yang lebih pelan. Asyik dengan alat belajar dalam suasana sepi dan cuaca dingin.
Beberapa santri terlihat ke luar kelas hanya sekadar untuk menikmati suasana hujan pagi hari yang mengguyur bumi. Lapangan yang biasanya ramai saat istirahat kini kosong dan basah. Tidak ada yang berlalu lalang atau obrolan bahkan teriakan, mereka lebih memilih tetap di kelas sambil berbincang atau mengerjakan tugas melalui alat belajar.

Hujan begitu memengaruhi suasana belajar. Udara yang lebih sejuk membuat kelas terasa tenang, meski sesekali konsentrasi terganggu oleh suara hujan yang semakin lama semakin deras. Beberapa kelas tanpa guru mengajar, kelas terasa sunyi dan sesekali terdengar tawa kecil diantara mereka. Entah apa yang mereka tertawakan. Beberapa kelas yang lain terlihat semangat karena kehadiran guru yang tetap menyampaikan pelajaran, sementara santri berusaha fokus meskipun pikiran mereka sesekali melayang ke dunia maya.
Menjelang jam pulang, hujan belum juga reda. Santri keluar kelas dengan hati-hati agar tidak terpeleset di lantai yang licin. Ada yang menunggu hujan berhenti, ada pula yang langsung pulang dengan payung di tangan atau bahkan ada pula yang berlari menerobos hujan yang sedikit reda.
Hujan mengguyur sekolahku. Meski terkesan sederhana, hujan memberi pengalaman tersendiri di sekolah. Suasana yang lebih tenang membuat hari ini terasa berbeda dan mudah diingat. Hujan bukan penghalang kegiatan belajar, melainkan menjadi bagian dari cerita keseharian di sekolah dan kesan mendalam yang mereka rasakan.