
SMAIT Al-Multazam (27/042026). Lapangan sekolah biasanya ramai oleh suara langkah kaki dan obrolan santri. Tapi pagi itu berbeda. Puluhan santri duduk rapi di lapangan, buku di tangan. Para guru juga ikut bergabung, duduk di antara mereka. Tidak ada aba-aba keras, tidak ada suara gaduh. Hanya halaman-halaman yang dibalik pelan.
Selama dua puluh menit, sekolah mendadak seperti berhenti sejenak.
Kegiatan literasi bukan sekali dua kali dilakukan. Sudah jadi kebiasaan, setiap pekan keempat seluruh warga sekolah—santri, guru, ikut dalam sesi membaca senyap di lapangan. Buku yang dibawa bebas. Ada yang membaca novel, ada yang membuka buku pelajaran, ada juga yang tenggelam dalam komik. Yang menarik, tidak ada yang dipaksa terlihat serius. Tapi suasananya tetap tertib. Mungkin karena semua ikut melakukannya.

Beberapa guru terlihat duduk di barisan samping. Mereka juga membaca. Sesekali menandai halaman, lalu kembali tenggelam dalam bukunya. Di sisi lain, beberapa siswa yang biasanya sulit diam justru tampak fokus.
Teriknya matahari pagi mengubah suasana lebih teduh. Lapangan yang biasanya bising berubah jadi ruang baca bersama. Tidak ada dekorasi khusus, tidak ada fasilitas mewah. Hanya lapangan terbuka, buku, dan kemauan untuk mencoba. Tapi justru di situ letak kekuatannya. Sederhana, tapi terasa.
Dua puluh menit itu mungkin terlihat singkat. Tapi dari situlah kebiasaan dibangun. Bukan dengan paksaan, tapi dengan contoh. Guru membaca, Siswa melihat dan mereka pun membaca ikut terlena dalam lembaran demi lembaran bermakna.