
SMAIT Al-Multazam (4/05/2026). Setiap orang pernah bermimpi. Tentang masa depan yang lebih baik, tentang menjadi seseorang yang berarti, atau tentang kehidupan yang berbeda dari hari ini. Namun, tidak semua orang berani melangkah lebih jauh dari sekadar bermimpi. Banyak yang menunggu—menunggu kesempatan, menunggu waktu yang tepat, atau bahkan menunggu keajaiban datang.
Masih dalam rangka peringatan Hari Pendidikan, ada satu pesan yang disampaikan pembina upacara, Ustad Juheni, S.Ag., M.Pd. yang layak direnungkan: mimpi tidak seharusnya ditunggu, melainkan diciptakan.
Pendidikan sejatinya bukan hanya soal menghafal rumus, mengejar nilai, atau lulus ujian. Pendidikan adalah ruang untuk membangun keberanian—keberanian untuk membayangkan masa depan, lalu perlahan mewujudkannya.
Di dalam kelas, di balik buku, dan melalui setiap proses belajar, seseorang sedang diberi alat untuk menciptakan mimpi mereka sendiri. Maka kesabaran, bijak digital, menjadi diri sendiri, dan berproses dalam segala hal menjadi ajang yang mesti dilakukan dalam meraih prestasi.
Sayangnya, masih banyak yang melihat pendidikan sebagai kewajiban, bukan kesempatan. Padahal, dari sanalah mimpi-mimpi besar lahir. Seorang anak di desa terpencil yang belajar dengan lampu seadanya, seorang pelajar yang berjalan jauh demi sekolah, pelajar SD yang dapat bersaing di kancah internasional, hingga mahasiswa yang bekerja sambil kuliah serta seorang anak yang dapat menjualkan barang dagangan tanpa memiliki tempat atau toko untuk menjajakan dagangannya. Mereka tidak menunggu mimpi datang, tetapi mereka sedang menciptakannya, hari demi hari.
Mimpi bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Ia dibangun dari rasa ingin tahu, kerja keras, kegagalan, dan keberanian untuk mencoba lagi. Pendidikan memberikan fondasi itu. Ia mengajarkan bahwa tidak apa-apa untuk gagal, selama tidak berhenti melangkah.

Hari Pendidikan adalah pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi, tetapi tidak semua orang mengambil langkah untuk mewujudkannya. Di sinilah peran kita diuji—apakah kita hanya akan menjadi penonton dari mimpi kita sendiri, atau menjadi penciptanya?
Tidak perlu menunggu sempurna untuk memulai. Tidak perlu menunggu yakin untuk mencoba. Karena sering kali, mimpi justru lahir dari langkah kecil yang berani. Jadi, di Hari Pendidikan ini, mari ubah cara pandang kita. Jangan lagi bertanya, “Kapan mimpi itu datang?” tetapi mulai bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan hari ini untuk menciptakannya?” Sebab masa depan bukan milik mereka yang menunggu, melainkan milik mereka yang berani mencipta.